Kalau melihat Zafa sekarang, rasanya aku ga percaya kalau aku bakalan menjadi
orang tua karena dari awal menikah pun aku sempat bilang ke suami kalau aku ga
mau hamil dulu. Aku ingin fokus ke karir. Tapi, saat itu suami bilang kalau dia
ingin segera punya anak, karena Sang Mama yang sudah mendambahkan cucu dari
belasan tahun tak kunjung datang dari tiga kakaknya.
Kesepakatan
Akhirnya, setelah
kami membuat kesepakatan saya pun setuju memiliki anak. Kesepakatan itu adalah:
- Semua pekerjaan rumah suami yang mengerjakan
- Suami harus selalu siaga begadang buat ganti diapers buat bayinya
- Kalau baby pup harus suami yang mengganti diapers
- Suami bersedia mencuci semua popok yang kena pup
![]() |
| Pernikahan Kami ternyata penuh kesepakatan yang semuanya datang dari aku. |
Kesepakatan dibuat
tidak tertulis dan suami menyanggupinya. Semua komitmen dia akan seorang suami
dilaksanakan dengan baik dari semenjak usia awal kehamilan.
Dia melakukan semua
pekerjaan rumah tangga termasuk menyediakan makan. Karena saat itu aku masih
kerja, dia juga siapin air hangat buat aku mandi setiap pagi dan sore. Saat
hamil aku ga bisa mandi air dingin. Setiap bulan pun dia yang hafal jadwal
kontrol ke Obygn. Bahkan dia membaca banyak referensi tentang kehamilan dan
bayi. Jadi, jangan heran kalau pengetahuan dia tentang merawat kehamilan dan
bayi jauh labih bagus dari aku.
Setiap hari dia elus
dan ajakin ngobrol si baby. Mau kemana-mana pamit.
Persalinan
Saat itu 17 Desember
2014 jam 4 pagi, aku hendak sholat Tahajjud memanggil suami karena keluat
bercak darah. Obgyn sudah kasih brief di kontrol terakhir mengenail hal ini.
Aku urung sholat Tahajjud. Lepas Subuh kami ke Rumah Sakit Kasih Ibu
Kedonganan, Jimbaran yang kami tempuh tidak sampai lima menit karena jalanan
sangat sepih.
Jam 19.00 lebih si
baby keluar dengan persalinan normal ditemani suami disampingku. Aku merasa
amazing banget meski setelah melakukan serangkaian test katanya si Baby Zafran
(yang kemudian kami panggil Zafa) harus nginep 2 hari di RS.
Semua keluarga dan
sahabatku seakan tidak percaya aku mampu melewati semua rasa sakit dengan
persalinan normal. Aku bangga dengan diriku sendiri. Suami lebih bangga karena
bisa menimang buah hati yang menjadi kebangaan dan kesayangan keluarga besar.
Pulang Dari Rumah Sakit
Sepulang dari rumah
sakit, sesuai kesepakatan suami melakukan semua pekerjaan. Saat dia kerja,
Mamanya yang menggantikan. Tapi, aku yang saat itu sedang ada pada titik
terendahku memang terlalu banyak menuntut. Aku ga pernah puas, aku melakukan
pekerjaan rumah seperti bersih-bersih sendiri, mencuci.
Lelah dan ada rasa ga
sanggup membesarkan anak, aku sering menangis sendiri. Kalau sedang waras ya
nimang bayi sambil baca shalawat.
Bodohnya, aku ga cerita ke siapa-siapa.
Drama terberat saat
ASI tidak keluar, aku pingsan kecapekan. Dan tetap, aku ga mampu menceritakan
apa yang aku rasakan. Hanya ada rasa sedih dan kecewa.
Cuti Hamil Selesai
Cuti hamil hanya
3bulan itu pun saat cuti aku bawah laptop kantor, bayi usia 1bulan si boss WA "Han,
are you okay to do some follow up because our sales people can’t handle
all" ya, aku yang gila
kerja, kangen target, ya okay-okay saja.
Baca Juga:Bekerja menjadi release emosiku.
Tapi, waktu berjalan
ternyata masalah demi masalah datang antara aku, suami dan keluarga. Mama
sempat pulang ke Padang karena ada urusan mendadak, akhirnya kami bingung tidak
ada yang menjaga bayi kami. Saat itu, Bundaku sempat membantu jagain tapi tidak
bisa lama. Setelahnya kami berdua gentian cuti di sisah dua minggu.
Suami minta aku
resign, aku berargumen kalau aku ga bisa resign karena aku punya impian dan aku
sempat sombong bahwa penghasilanku jauh lebih banyak dari dia, jadi dia yang
harusnya resign. Duh! Nyesel pernah mikir demikian.
Sampai akhirnya suami
terkena putus kontrak. That’s so bad, aku berhenti merengek dan protes kaya
anak manja ke suami.
Kalau ada orang
bilang setiap anak itu membawa rejekinya
sendiri, memeng benar. Suamiku putus kontrak dari anak Garuda Alhamdulillah
tanpa menunggu langsung pindah ke sebuah travel agent milik Jepang.
Pas lagi kondisi
tenang, suami bilang kalau mending aku bisnis sendiri saja karena aku punya
semua ilmunya, networking bagus. Agar bisa tetap jaga anak.
Aku ingin
mendengarkan suami, akhirnya sempat mencoba dengan nama "Hanila Idea" konsep bisnis persis dengan bisnis
sekarang. Tapi, aku langsung mundur dan bilang "Ga bisa, Hani butuh partner yang
sanggup urus pengadaan barang. Hani ga bisa kerja sendiri"
Partner yang kumaksud di sini bukan staff ya, tapi beneran orang yang memiliki
keahlian dan experience di bidang ini.
Si Baby tumbuh dengan
sangat baik. Meski kami kerja, saat jadwal imunisasi kami ambil cuti.
Sampai akhirnya si
Baby berusia satu tahun setengah, aku mulai menangkap kejanggalan kalau babyku
belum bisa bicara bahkan "mama", "Maem" dan first word
lainnya. Mulai cemas dan memutuskan resign. Si Boss approved tapi beliau
berstrategy menahan aku dengan menahan bonus penjualanku yang nilainya lumayan
6bulan gaji lebih.
Tapi,
kalau kalian percaya kekuatan pikiran dan juga nasib akan mempertemukan kita
dengan orang-orang yang satu frekuensi dengan kita maka itulah yang terjadi
padaku.
Aku bertemu sahabat
blogger, bukan pertama kali bertemu dia tapi saat itu selepas event di sebuah
hotel ga tau apa yang membawah kami untuk nongkrong di Beachwalk
dan ngobrol serius sampai bertemu kesepakatan kami membangun bisnis bareng.
Yang pasti we have same idea and propose for build business. Skema bisnisnya
bahkan sampai pada kegiatan-kegiatan CSR-nya. Keajaiban sering terjadi pada
kehidupanku. Terima kasih, ya ALLAH.
Karena sudah yakin
dengan bisnis yang akan kami bangun, bekal restu suami dan orang tua aku
langsung keluar meski uang bonus tidak dikeluarkan. Semua demi menjadi orang
tua.
When Baby Born, Parent Born
Si Baby tumbuh dengan
baik, dengan resign aku pun bisa menjaga dan mengawasinya secara penuh. Ada
rasa bersalah pada beberapa waktu ke belakang sudah meninggalkan dia bekerja.
Hanya sebulan aku
resign, si baby yang berusia satu setengah tahun mulai bisa menirukan orang
bicara meski ga jelas. Karena terus aku lakukan stimulasi.
Zafa ini termasuk
bayi manis dan ga merepotkan. Mungkinkah karena dari bayi sering aku katakan
kalau dia harus menjadi bayi yang baik, ramah dan ga rewel?
Berbekal dari
pengalaman itu, aku pun sering membisikkan hal tersebut padanya. Tentang
bangganya aku memiliki dia, bangganya aku karena dia tumbuh menjadi anak yang
baik, pintar dan ga rewel.
Semua ini aku namakan
"parenting
berbasis kepercayaan" yang
aku padukan dengan hypno parenting.
Bagaimana
parenting berbasis kepercayaan aplikasinya?
Baca Juga: Prinsip Parenting Berbasis Kepercayaan1. Aku ikuti pattern atau milestonenya sambil terus mengarahkan dia
Menumbuhkan keyakinan
dalam diri kita bahwa anak kita bisa dan mampu melakukan sesuatu, sebagai
contoh ini berhasil aku lakukan pada potty training, lepas diapers, sapih botol
serta kemandirian lainnya. Sehingga, di usianya sekarang Zafa termasuk mandiri.
Sebagai Ibunya,
kadang aku merasa ga dibutuhkan sekarang. Sebab dia selalu bilang:
"No, Mom.Zafa kan sudah grow up, Zafa bisa sendiri..."
"No, Mom.Zafa kan sudah grow up, Zafa bisa sendiri..."
2. Sering
memberikannya perhatian berupa ungkapan verbal
dan tindakan. Seperti memeluk dia sambil bilang "I Love You" atau
mencium keningnya sambil bilang "Mami bangga sekali Zafa sudah baik dan
mau mendengarkan Mami"
3. Lemparkan
pujian padanya secara spesific jika dia berhasil
melakukan sesuatu
4. Sering
mengajaknya ngobrol, diskusi bahkan meminta pendapatnya.
Hal ini aku percaya bisa membuat dia memiliki kepercayaan diri tinggi.
5. Memberinya
tanggung jawab seperti Zafa punya tanggung jawab
melipat bajunya sendiri, merapihkan mainannya, mencuci piringnya sendiri,
membuang sampah ke tong sampah di luar rumah. Hal ini juga bisa membuat dia
merasa dihargai kemampuannya.
Selain memberi
tanggungg jawab langsung ada baiknya kadang aku meminta tolong sesuatu. Ini
bahkan membuatnya lebih bangga.
6. Selalu
encourage serta memberi contoh baik. Sebagai contoh
kadang dia ga berani mencoba sesuatu, maka aku akan bilang "Zaf, ga ada iti
ga bisa yang ada Zafa belum mencoba dan belajar. Zafa bisa!! Ayo coba!" Kalau sering dikatakan akhirnya dia ingat. Tapi,
namanya anak-anak ada kalanya juga moodnya jelek.
7. Anak
bertanya jangan menjawab "ga tahu" "ga bisa" kalaupun ga tahu biasanya aku ajak
Zafa mencari tahu bareng-bareng. Misal dia bertanya "Mom, kalau bahasa
inggrisnya ini apa?" Sambil nunjuk baling-baling helikopter.
Aku mikir sebentar,
"wah..mami kok ga tahu, ya? Ayo kita cari tahu di google translate"
akhirya kami ketemu jawabannya bareng-bareng. Its fun dan anak mudah ingat.
"wah..mami kok ga tahu, ya? Ayo kita cari tahu di google translate"
akhirya kami ketemu jawabannya bareng-bareng. Its fun dan anak mudah ingat.
Dan untuk phase
sekarang, aku yang belajar basic ekonomi mulai membaca Science for beginner,
enginering for kids dan National Geographics. Karena, dia sering banget
melontarkan pertanyaan seputar hal ini.
Rintangan Menjadi Orang Tua
Setiap orang tua
memiliki rintangan dan tantangannya sendiri dalam mendidik dan membesarkan
anak-anaknya. Aku pun demikian. Apa
saja rintangan yang kuhadapi?
Pertama:
Nenek-Kakek Yang Sayangnya Kebangetan
Kami tinggal serumah,
karena Zafa cucu satu-satunya jadi ga diijinkan pindah ke rumah kami. Sering
kali posisi cucu satu-satunya ini menjadi masalah. Karena meski pun si nenek
emang ga pernah ikut campur dalam caraku mendidik ga jarang aku disewotin kalau
misal Zafa salah dan aku hukum dia dikurung di kamar.
Contoh hal-hal yang
merusak pattern parenting kami adalah saat si nenek bilang " cucu nenek masih kecil kasihan,
jangan disuruh cuci piring sendiri"
Untungnya Zafa sering
kuajak ngobrol, jadi dia sering bilang ke neneknya "kata mami Zafa udah besar, Nek. Zafa bisa
sendiri" yang denger bangga jadinya, hehehe.
Palingan neneknya
menggerutu dalam bahas Minang sambil menyebut nama Iwan (suamiku) "eh,
Iwan..pinta bana mangecek, Nak! Tak kau di nenek!"
Kedua:
Gadget
Ini adalah racun, di
saat dia tidak aku berikan tapi kami semua memegang. Aku bekerja di rumah dan
dia melihat aku ga lepas dari Gadget. Aku tidak membuat peraturan strict, namun
aku kasih pemahaman saja kalau Mami main HP buat kerja.
Jadi, kalau pekerjaan
selesai aku memang tidak lagi pegang HP. Atau misal aku lagi jalan sama dia aku
ga pegang HP makanya aku jarang keinget foto padahal kami sering jalan, hahaha.
Dan lagi, Zafa bisa
diajak diskusi dia ga merajuk, mengamuk saat ingin menonton video misalnya.
Kami bikin saja kesepakatan, kalau Zafa hari ini mau belajar menulis nanti
dapat pinjam iPad. Dia menurut.
Percayalah lebih susah mengurus Bapaknya,
hahaha.
Ketiga:
Teman dan Lingkungan
Terkadang kita tidak
dapat mempercayai lingkunganya begitu saja. Karena tidak jarang anak pulang
bermain dan membawa hal-hal yang selama ini menjadi larangan kita.
Saat ini terjadi,
lagi aku ga langsung marah. Hanya menunjukkan kekagetan lalu aku kasih dia
pemahaman bahwa yang dia lakukan itu tidak benar. Biasanya dia mengerti
walaupun di awali dengan berbagai pertanyaan yang mengganggunya. Asal
dijelaskan dan masuk akalnya dia akan bilang “Yes, Mom. Understood” dan saat seperti itu pasti aku timpali “Good, Mami
proud of you, baby”.
Menjadi orang tua mejadikanku manusia seutuhnya karena aku harus hidup karena memikirkan kebahagiaannya dalam seumur hidupku.





Penuh suka dan duka ya mba jadi orang tua. Harus paham berbagai cara dalam menjalaninya, jga terhindar dari hal-hal negatif juga belajar lebih sabar. Menjadi inspirasi buat orang tua lainnya mba
ReplyDeletePastinya, Mas.
DeleteNamun, saat dijalani dnegan gembira dukanya lenyap deh.
Entah kenapa aku sih merasa semua ynag kutemui dalam hidup adalah keberuntungan.
ganteng anaknya mba, ini skg spertinya harus lebih sering baca sprti ni. persiapan haha
ReplyDeleteHauahahah...makasih Mas, faktor ibunya yang cantik kali ya? Hahahaha.
DeletePembekalan ini Mas sebelum punya anak buat Mas. xixixixi
Menjadi orang tua ada suka dan dukanya, tapi lebih banyak sukanya sih, apalagi jika anaknya menurut seperti zafa.😄
ReplyDeleteAlhamdulillah, Om.
DeleteZafa anak yang baik karena sayang mami makanya ga mau bikin mami sedih.
Si ganteng semoga selalu sehat yamm semoga nantinya menjadi anak yang membanggakan orangtuanya ♥️
ReplyDeleteAaamiin, YaRabbalalaamin.
DeleteMakasih Ya Tant... :*
Pengalamannya sangat berharga sekali ya kak untuk pribadi, sekaligus buat para pembaca blog ini
ReplyDeleteIya, semoga memberikan inspirasi :)
DeleteMenjadi orang tua itu butuh banyak belajar ya, suka dan dukanya pasti bakalan ada.
ReplyDeleteBener Mbak Tian.
DeleteSuka, Duka, Pengorbanan yang dulu juga ortu kita lakukan kini giliran kita yang lakukan.
Jadi orang tua itu nggak ada sekolahnya tapi kita belajar terus...tapi bahagia ya mbak bis ajadi orang tua
ReplyDeleteKalaupun ada sekolahnya ga lulus-lulus karena sampai anak tua ilmunya progressif wakakkakakak
DeleteGantengnya Zafa
ReplyDeleteSemoga selalu jadi anak yang membanggakan orang tuanya ya
Makasih, Tant.
DeleteAamiin, Aamiin YaRabbalalaamin.
Mohon doanya ya Tant...
Zafa cerdas banget. semoga selalu sehat yaa...semangat kak, inshaallah setiap anak ada rejeki masing-masing ya. Jangan khawatir hanya karena resign ya. Akupun pernah merasakan kok.
ReplyDeleteMakasih, Mbak...
Deletebener banget.
Insyaallah sekarang sudah ga ada kerisauan lagi.
Maksih supportnya Mbak Enny. Big Kiss.
Agak mirip nih sama cerita saya yang awalnya (janji sebelum nikah) akan terus berkarier. Suami saat itu menyetujui. Tetapi saya sendiri yang berubah pikiran ketika mulai hamil. Saya pun resign dengan kesadaran dan kemauan saya sendiri. Saatnya meneruskan cita-cita lewat anak-anak saya
ReplyDeleteKalau keseringan menjawab pertanyaan "gak tau", yang ada jadi ditiru ya bila suatu saat mengajukan pertanyaan juga. Pengalaman kak Hanila jadi inspirasi buatku kala berumah tangga nanti
ReplyDeleteWah baca tulisannya jd banyak yg dipikirkan.. Tapi ya sudahlah kan tiap org punya proses hidup yg berbeda, setiap org memang berbeda beda latar belakang ya Mba...hehe.. semoga sukses selalu ya mba setiap yg kita lalui menjadi pelajaran yg berharga selalu...����
ReplyDeleteWhen baby born, parent born. Setuju banget dengan statement ini. Aku juga belajar banyak dari kedua anakku. Menjadi ibu itu memang proses belajar tanpa henti ya, Mbak.
ReplyDeleteYa ampuunnn, di awal-awal bacanya, saya terserang rasa iri.
ReplyDeleteAlangkah positifnya hubungan kalian Mba.
Bukan karena suami mengalah, tapi semua dikomunikasikan, dan tidak ada yang namanya ditutup-tutupin takut dinilai manja or something.
Saya pacaran lama, dan tidak pernah merasakan hubungan seperti itu, duhh... parah deh saya.
Seharusnya tulisan ini dibaca oleh banyak pasangan muda, biar mereka tahu kalau hidup itu harus dibicarakan, diplanningkan.
Meski pada akhirnya kadang tidak sesuai planing, setidaknya kita tidak pernah berhenti belajar menjadi orang tua yang baik :)
Jadi orang tua memang sepertinya nggak mudah ya mba :>
ReplyDeleteKarena semenjak jadi orang tua, apapun keputusan yang dibuat, harus melibatkan kebutuhan sang anak juga. Well anyway, semoga adik Zafa bisa tumbuh sehat, ceria dan selalu menjadi kebanggaan orang tua :D
Dan untuk mba, keep being strong. You are a great mom, indeed :)
Tidak mudah ya ternyata menjadi orangtua, pasti ada suka dukanya. Tapi ya tetap dinikmati. Smg selalu diberi kesehatan agar dapat membersamai anak2
ReplyDeleteMenjadi orangtua itu spt naik rollercoaster ya mbak...
ReplyDeletePenuh tantangan, makanya jadi orangtua memang harus selalu belajar
Jadi orang tua memang nggak ada sekolahnya mbak. Kita yang harus mandiri mencari tau ilmunya. Ceritanya sangat menginspirasi. Aku dulu pun sempat galau mau resign dari kerjaan karena nggak ada yg jaga bayi
ReplyDeleteKetika wanita bekerja dan memiliki anak apalagi masih balita pasti ada ada rasa ingin selalu dekat dengan buah hatinya ada dua kemungkinan sih tetap bertahan dengan bekerja atau kemudian resign dan Mbak, sama seperti Saya memutuskan untuk resign dan menstimulasi perkembangan Si Buah Hati apapun itu memang sebuah keputusan yang tak dan pasti ada ada keuntungan dan kerugian yang didapatkan
ReplyDeleteManisnya Mbak Hani menuliskan kisah ini. Dari masa kehamilan sampai Zafa besar.
ReplyDeleteTurut bangga pada kemandirian Zafa,pada mami yang hebat besertanya, juga papi yang menyokong keluarga kecil bahagia.
Ya, teruslah bersemangat bahwa hidup kita sebagai orang tua sangat berarti bagi anak
Saya suka dengan ilmu parenting yang Mbak terapkan kepada Zafa. Itu bagus agar anak tetap ingat dan bisa jadi bekal masa depannya sebagai pribadi yang lebih baik.
Palung harus lebih sering saya sounding.
Betapa tidak mudahnya jadi orang tua itu, mari kita bergandengan tangan membangun support sistem sesama mom agar tetap waras dan bahagia karena tekanan hidup dari luar akan selalu ada.
Mbak Ferdias seakan bagian dari alur nasib agar kalian bisa tumbuh bersama.
Tetap semangat, Mbak. Salam untuk Zafa. Peluk dari jauh untuk kalian berdua.
Kata Palung setelah mamah sampaikan pesan dari maminya Zafa, assalamualaikum. Ha ha.
Bener bener saling mengisi satu sama lain kalian berdua mb, so sweet aneeeth hihi
ReplyDeleteTapi ya memang itulah seninya berumah tangga, saling melengkapi dan jika mengkomunikasikan keinginan berdua tanpa mementingkan ego masing2 niscaya bakal meminimalisir hal hal yang ga enaknya
Btw aku jadi menebak nebak bahasa minang yang diucapkan nenek saking pinternya dek zafa uda diajarkeun mandiri sejak kecil yang which is menurutku bagus, aku juga kecil begitu uda dilibatkan membantu nyuci piring sendiri, ewang2 masak, nyapu de el el, walaupun klo blom bersih didoublein kerja dua kali sama mamine hihi
salfok sama zafa nih mba, hehe gemes banget. Tapi sebagai orang tua mba Hani dan suami sudah keren banget, rintangan menjadi orang tua berhasil dilewatin. Semoga zafa juga kelak menjadi anak yang selalu semangat menghadapi rintangan apapun ;)
ReplyDeleteAdek Zafa ganteng banget, mandiri banget ya mbak manut dan pengertian sama mamanya.
ReplyDeleteSehat terus ya dek Zafa.
belajar dari sini, saya akan menggalakkan bentuk kasih dalam ucapan verbal. agar anak jg ada interaksinya dan hubungan kami makin erat. ah perjuangan jadi orang tua itu banyak lika likunya ya
ReplyDelete