Setelah
menulis tentang Ibuku dengan tajuk “Ibuku Bukanlah Malaikat” aku jadi berpikir kalau akan menulis secara rutin
tentang orang-orang atau profil di sekitar yang mungkin bisa memberikan cerita
singkat mereka tapi tetap menginspirasi.
Bundaku menginspirasi karena ketangguhannya menghadapi cobaan hidup
dan tidak mau terbelengguh oleh tingkat pendidikan untuk menjadi orang tua
modern dalam mendidik anak-anaknya serta mengawal anak-anaknya sampai sekarang.
Sedang,
hari ini aku ingin bercerita tentang sosok Mama mertuaku. Perempuan Minang
berusia 70 tahun yang sangat rajin dan tidak bisa diam dalam kesehariannya.
Kalau disuruh diam, ujungnya ngambek.
Mama,
begitu kami memanggil beliau mulai tinggal di Bali di tahun 70-an karena
mengikuti suaminya (Papa) yang bertugas di Bandara Ngurah Rai saat itu.
Inspirasi atau ilmu kehidupan apa yang patut kita petik dari beliau?
Berikut
aku akan ceritakan dan semoga benar-benar memberikan kita inspirasi serta
motivasi.
Menjual Keripik Singkong Modal
Hutang sampai Warung Padang
Cerita
beliau berawal saat anak keduanya meminta uang untuk membeli kerupuk, namun
Mama tidak memiliki uang tersebut. Mama menangis sedih, akhirnya hutang singkong dan
minyak ke warung, dibuatkannya keripik singkong anak keduanya tersebut. Dari
situ terbesit pikiran "kenapa ga berjualan saja?". Dan, Alhamdulillah jualannya laris.
Lalu,
karena kegigihan dan kejujurannya banyak sekali yang menyarankan membuat Rumah
Makan Padang, saat itu di Bali belum banyak RM Padang seperti sekarang. Tapi,
Mama bilang tidak ada modal untuk itu. Gayung bersambut, banyak sekali vendor
berhati baik yang memberikan pinjaman modal berupa barang untuk sebuah Rumah
Makan. Dan Rumah Makan itu berkembang pesat.
Oh,
iya Rumah Makan itu bernama “ADINDA”
saat itu merupakan Rumah Makan Padang yang besar di Bali. Yang makan di sana? Semua
kalangan sampai Seorang Perdana Menteri sekelas Hasana Bolkiah, sayang sekali dokumentasi
tidak ditemukan karena pas warung ditutup banyak sekali property yang tidak
tahu kemana selain dihibahkan.
Singkat
cerita, dengan adanya Rumah Makan tersebut kondisi ekonomi keluarga langsung
berubah drastis. Walaupun akhirnya Mama harus gulung tikar juga dikarenakan
adanya persaingan tidak sehat, di samping Mama sudah menua jadi anak-anaknya
meminta beliau untuk istirahat.
Yang diajarkan Mama ke kami:
Jangan berjudi kalau
takut kalah, jangan berlayar kalau takut badai, jangan berumah di tepi pantai
kalau takut di lamun ombak.
Yang
artinya kita tidak boleh takut mencoba berusaha (berbisnis) resiko rugi itu ada
seperti halnya potensi untung. Semua satu paket. Intinya berani dengan
perhitungan matang.
Ibaratnya nasi di sendok tidak
akan masuk mulut jika tidak kita suapkan. Jadi bergeraklah! Milik Kemauan.
Yang
artinya kita tidak boleh malas. Mencari uang itu sangat mudah asal kita ada kemauan, harus rajin dan tekun dalam berusaha karena
rejeki, uang tidak datang dengan sendirinya. Semua bisa ada jika diupayakan dan
kita memiliki kemauan.
Sampai
sekarang Mama kadang masih menerima pesanan Rendang Daging, Dendeng Bathokok. Customernya memang teman-temanku biasanya,
rendangnya bahkan ada yang dibawa sampai ke Belanda oleh salah satu teman.
Rendang Mama di antara semua Rumah Makan Padang memang paling enak, biasanya
aku ga doyan Rendang, tapi pas dibikinin Mama aku suka. Rasanya otentik kalau
kata suami.
Doakan
Mama selalu sehat ya, agar bisa melihat cucunya menjadi manusia yang sukses dan
mulia J.
Cerita
ini memang aku ceritakan secara singkat, biar kebaca semua oleh sahabat. Versi
aslinya sih bisa jadi novel! Hahaha.


haha, jgn terlalu panjang, nanti mlh gak dibaca.. apalagi dibin novel.. kalo bercerita tentang Ibu, saya mlh sedih, karena ibu saya pergi sebelum saya sempat memberikan yg terbaik untuknya... setelah Ibu pergi, Ayah juga menyusul... saya hanya bisa berikan doa yg terbaik utk mereka.
ReplyDeleteSalam dari Cirebon
Kita kirim Alfathehah buat Ayah dan ibunya ya...semoga mereka mendapatlan tempat yang terindah.
DeleteIbu ibu kita selalu menginspirasi. Semoga para ibu sehat selalu.. 😊
ReplyDeleteBener.
DeleteAamiin, aamiin YaRabbalalaamin
Figur ibu2 tangguh selalu menginspirasi. Thanks mba Hani sudah berbagi .. Saya suka bacanya, bikin semangat meletup
ReplyDeleteSama-sama Mbak..semoga memberi kita motivasi ya..
DeleteSemoga Mama sehat dan tetap menginspirasi. Orang tua kita itu memang tidak mau disuruh diam (istirahat) oleh anak cucunya ya. Jawabnya justru kalau diam ga enak hehehe....
ReplyDeleteSemoga kita bisa memuliakan para ibu termasuk mertua yang juga menjadi ibu kita
Aaamiin, YaRabbalalaamiin.
DeleteTerima kasih doanya, Teh Okti.
Waduh saya belum sempat mengenal ibu mertua, keburu meninggal
ReplyDeleteSemua ibu adalah pejuang ya?
So sad ya, mbak...semoga ibu mertuanya mendapatkan tempat terindah di sisi-NYa.
DeleteBener, semua ibu adalah pejuang itulah mengapa syurga di telapak kaki ibu.
Saya malah seneng bacanya mbak. Buatlah jadi novel biografi, mbak. Akan jadi motivasi untuk perempuan kekinian seperti saya yang sudah dikelilingi banyak kemudahan. Two thumbs up mbak. Salam kenal dan peluk hangat dari Pamulang
ReplyDeleteXixixixi
DeleteMakasih, Mbak.
Buat catatan sendiri juga biar ga lupa.
Konon tulisan akan menjadi prasasti.
Kalau mau dibuat novel, pasti semua ibu-ibu menginspirasi. Hmm ibu memang nomor satu, orang yang paling sabar.
ReplyDeleteBener, semoga kita jadi salah satau ibu yang menginspirasi anak2 kita ya...
Deletejadi pengen baca novelnya... pengen tahu perjuangan ibu membangun bisnis RM Padang... itu pesenan rendang bisa ke surabaya gak kakak heheheh
ReplyDeleteHzahha
DeleteKayanya bisa lho kalau ke Surabaya.
Karena Rendang bisa dibiarkan sampai satu minggu tanpa dihangatin. Kalau Bali-Surabaya kan maksimal 3hari. tapi ada layanan sehari.
kisah hidupnya inspiratif sekali kak.. jadi intinya kita harus positif thinking kalau mau maju ya..
ReplyDeleteBenar, intinya emang begitu.
DeleteSemoga usahanya berkembang dan maju terus yaaa, aamiin.
ReplyDeleteAamiin, YaRabbalalaamin.
DeleteMemang petuah orang minang itu sangat elok kita terapkan dalam kehidupan ya mba. Tidak saja hanya perkataan, tapi juga dilakukan dengan sungguh2, makanya orang minang bisa hidup di mana saja.
ReplyDeleteSemoga sehat selalu Mamanya 🤗
Hehehehe, bener.....
DeletePerempuan Minang juga pekerja keras serta rajin.
Waw, beruntung mba, punya mama yang jago masak sekaligus berwirausaha, apalagi bikin rendang, hmmm.. sehat-sehat ya mamanya..
ReplyDeleteAlhamdulillah... makasih mbk apresiasinya.
DeleteSosok beliau sangat menginspirasi mbak ❤️ malu rasanya diri ini saat memiliki banyak mimpi namun takut untuk memulainya karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yg sebenarnya tidak perlu. Nice share mbak 🤗
ReplyDeleteItu yang selalu dicontohkan ke anak-anaknya, jangan sampai pas nanti tu amenyesal karena kita tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin,
DeleteTerima kasih sharingnya, Mom. Jadi ingat Ibu di rumah, beliau juga jago masak. Hehe. Sehat selalu untuk Mama.
ReplyDeleteAamiin, YaRabbalalaamin...makasih doanya.
DeleteJangan berlayar kalau takut badai.. mengisnpirasi banget mbak.. :") kadang sebagai entrepreneur ada masa pengen nyerah hahaha
ReplyDeleteIya....bukan menyerah tapi capek gitu, hehehe
DeleteAyo ditulis aja kisahnya, tampaknya bisa menginspirasi loh mba. Apalagi di usia senja ibu masih bikin pesanan dendeng bathokok. Semoga Mama diberikan usia berkah dan nikmat sehat menjalani sisa usia, aamiin
ReplyDeleteInsyaallah, masih cari timingnya, hehehe
DeleteMasyaAllah ... Nasehat-nasehat Mama luar biasa banget, ya. Punya jiwa pengusaha memang harus tahan badai, betul sekali itu. Kalau takut gagal terus, sebuah usaha nggak akan pernah dimulai. Semua pengusaha yang saat ini sukses, kalau ditanya apakah mereka pernah gagal, aku yakin jawabannya pasti pernah.
ReplyDeleteSehat-sehat terus ya, Mama. Semoga usianya senjanya senantiasa penuh berkah, dikelilingi oleh anak, menantu, dan cucu, yang sangat mencintai Mama.
Aamiin, aamiin Yarabbalalaamin....
Deletekami semua memang menyayangi dia...
Emang ya,, yg namanya nasehat ibu itu terngiang-ngiang banget di telinga anaknya. Merasanya pas udah punya anak2, sekilas anak2 ini kok cuek ya sm wejangan yg diberikan. Insyaallah sebenarnya anak ngesave semua petuah ibunya sampai kapanpun.
ReplyDeleteIya, benar.
DeleteCuma kadang dipalikasikan atau nggak gitu...hehehe.
Luar biasa cerita ibu mertuanya mbak..
ReplyDeleteNasehatnya sangat bijak sekali
Semoga sehat selalu ya beliau
Aaamiin, makasih apresiasinya Mbak...
DeleteKeren sekali mbak mertuanya masih terima order catering. Semangat kerja keras orangtua kita memnag patut kita teladani banget mba. Lihat foto rendangnya pagi2 jadi laper 😅
ReplyDeleteKarena beliau ga mau diem.
DeleteSuka nantangin dan tanya2 apakah ada teman order.
kadang bukan apa, saya kasihan bair dia istirahat,
Entah kenapa sosok perempuan Minang di mata saya memang tangguh dan dominan. Sama seperti perempuan Jawa yang sebagian besar lembut dan penurut :)
ReplyDeleteBenar begitu ya?
DeleteHehehehe
Tangguh dan kuat.
Rendangnya bikin nagih, memang rendang andalan daerah minang ya ... Punya mertua pekerja keras mesti di contoh nih.
ReplyDeleteIya, insyaallah saya akan contoh.
DeleteAh senangnya akrba sama mertua gtu mbak dan memperoleh banyak nasihat bagus ya mbak :D
ReplyDeleteWah aku jd pengen makan rendang, biinan orang Padang asli pastinya lebih manteb deh. Moga sehat2 selalu ya mamanya
Alhamdulillah, Mbak...
DeleteSaya akrab sama mertua, bahkan mertua kalau ada apa-apa lebih nyaman ngobrol sama saya.
Ibuku juga pinter banget masak masakan medan dan padang. Aku tuh pinginnya keahlian ini tidak hilang, ada penerusnya. Tapi aku pribadi gak suka masak ya. Jadi entahlah, hati ini belum tergerak untuk belajar dan mendalami seni memasak ini.
ReplyDeleteNah,....kata Mama, apakah saya bisa diwarisi ilmu masaknya, lha saya masak telur aja gosong dan baru2 ini saja bisa karena punya anak, kepaksa, hehehe.
Deletemamanya keren banget, pinter masak dan punya usaha warung makan. Alm mamaku juga inspirasi aku lho. pinter masak, pinter jahit, menyulam, membordir...aku juga hidup dari kepawaian tangan beliau
ReplyDeleteduh, kok jadi sedih mengenang mamaku.
Semoga mamanya tetap sehat selalu ya...
Kita doakan yang terbail buat Mamanya, ya....
Deletesemoga beliau mendapatkan tempat yang terindah di sisi-NYA.
Mama memang pandai masak makanan Padang, tapi belakangan sering masak makanan Jawa karena saya ga suka masakan Padang, hehehe.
Inspiratif sekali mbak artikelnya.saya jadi pengen belajar ama ibunya mbak Hanila nih. Saya emang emak2 mbak tapi soal masak kok susah bisanya ya. Hahaha
ReplyDeleteMakasih apresiasinya.
DeleteSaya sendiri ga bisa masak meski sering diajarin.
Waah ada kisah dari Ranah Minang. Istriku orang Minang soalnya. Meski hanya blasteran karena ia lahir di Jakarta.
ReplyDeleteJadi Mertuaku yang asli Minang bukit tinggi.😄😄
Menurutku kalau wanita minang grecek atau tidak bisa diam, Terutama orang tua. Itu karena ia ingin menunjukan kepada anak2nya bahwa yang ia katakan atau nasehati pasti benar dan harus dicontoh.
Begitupun dalam hal lain. Selama dirinya masih mampu ia akan terus giat berusaha, Bahkan sampai akhir menutup mata.
Yaa seperti contoh cerita diatas. Meski sedikit ada perbedaan intinya tetap Cie.😂😂😂
Jadi kangen sama Ranah Minang.
Kampuang nan jauh dimato.😂😂😂
Huaaah...ternyata begitu ya, Mas?
DeletePantesan si Mama suka ngambek kalau disuruh diem.
Kadang harus saya ancem mau say atinggal pindah kalau ga mau diem karena saya kasihan, dia itu harusnya istirahat.
Nyuruh istirahat karena mama sudah tua yang ada malah kita yang didamprat.😂😂😂
DeleteBisa dibilang kaya Malin kundang. Terkutuaklah Kau.😂😂
Solusinya kita bantu, Apa yang Mertua ajarkan dengan cara kita turun tangan memegang kendali pekerjaan meski dalam pengawasan beliau.
Setidaknya bisa mengurangi bebannya mertua atau ibu kita sendiri.
Nggak mau pusing yaa jauh dari mertua atau punya rumah sendiri.
Jadi ketemu setahun sekali biar disuruh2 siapa takut. Kalau aku seperti itu soalnya. Mertua ngomel juga nggak ngaruh ketemunya setahun sekali doang.😂😂😂
Hahahaha, tips-nya boleh juga ini,,,ngebantu ngeringanin ya....
DeleteTapi, kalau mau pindah ini berat banget...kami sudah beli rumah sebenarnay yang ada ga kami tinggalin, karena kalau mau kami tinggalin si Mama mertua ntar ngancem balik ke Padang. Sedihlah kami, kan anak-anaknya 3 di Bali semua hanya satu di Jakarta. Di Padang cuma sama POnakan.
Sehat terus mama ya mbak.
ReplyDeleteKegigihan dan petuah mama mbak, sangat menginspirasi.
Ya mbak, rejeki nggak akan ke mana. Walau ada saja orang yang menginginkan kita jatuh, tapi Allih Swt Maha Kuasa. Rejeki lewat anak yg sholeh itu tiada duanya.
Aamiin, Aamiin YaRabbalalaamin....
DeleteBenar, anak-anak yang sayang, soleh dan solehah jugalah rejeki tak terhingga ya...