Media sosial telah menghubungkan kita ke jutaan atau bahkan
milliaran teman di seluruh penjuru dunia, seharusnya dengan begini membuat kita
tidak lagi merasa kesepian, tidak diterima atau merasa terasing dari sebuah
komunitas pertemanan karena secara logika, milliaran pintu pertemanan terbuka
buat kita.
Namun, kenyataannya fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak
sekali jiwa-jiwa kesepian. Di antara banyaknya kesempatan memperoleh teman baru
yang ada sebaliknya. Beberapa orang merasakan dampak-dampak negatif yang bisa
kita uraikan sebagai berikut:
Terjebak pada
dunianya sendiri.
Media social yang seharusnya membuat mereka bebas malah
bereffect membelennguh jiwanya. Hal ini dirasakan baik yang mudah diterima di
suatu komunitas atau pun tidak. Komunitas di sini bisa kita sebutkan sebagai
kumpulan orang-orang yang memiliki kemiripan "interest" terhadap
suatu hal.
Kasus-kasus seperti ini sempat terjadi kepada beberapa selebgram
yang akhirnya sampai terjebak pada "dunia halu" nya. Karena dia
merasa di terima dengan image yang dia bentuk maka dia pun berusaha
dengan keras agar terus bisa diterima.
Hilangnya Sisi
ketulusan
Hal ini masih berhubungan dengan masalah pertemanan. Dikarenakan
ada rasa "ingin" diterima di sebuah komunitas maka dia pun kadang
mendekati beberapa teman dengan sengaja, dengan pamrih tertentu.
Arahnya kemana? Dapat pengakuan. Pertemanan yang seharusnya
terjalin indah jadi penuh drama dan sandiwara.
Kecanduan Gadget
Tidak bisa dipungkiri, kalau sudah asik main di medsos rasanya
sampai lupa waktu. Yang sangat disayangkan terkadang sampai mengganggu
produktifitas pekerjaan kita.
Bayangkan saja, begitu membuka mata yang kita cari duluan
gadget, buka medsos, what else?
Walaupun ada sisi negative-nya pasti juga ada sisi positive yaitu
dengan adanya media sosial ini, banyak muncul ekonomi kreatif di
kalangan penggunanya yang pasti akan menaiikkan taraf ekonomi mereka.
Dari menjamurnya media sosial ini yang tentunya karena dibarengi
kemajuan teknologi banyak sekali tercipta peluang yang sebelum-sebelumnya tidak
pernah terpikirkan oleh kita. Bahkan banyak perusahaan-perusahaan, instansi
pemerintah yang juga mulai memanfaatkan media social.
Salah satu dari ekonomi kreatif adalah "influencer". Influencer
ini fungsinya mempengaruhi dan mereka berpengaruh di sebuah komunitas
masyarakat tertentu. Ya, meskipun influencer
dari dulu memang ada akan tetapi profesi ini menjamur semenjak adanya Media Social, bukan?
Boleh bangga dong yang sekarang menyematkan profesi "influencer" pada dirinya.
Menariknya, profesi influencer
ini pun biasanya mendapatkan job "ngiklan" atau biasanya disebut endorser. Bahkan, sekarang banyak artis
pun mulai melirik profesi ini. Kalian yang sering endorsing product udah kaya
artis saja lho, hehehe
Yang bikin aku mengerutkan dahi, belakangan aku membaca sebuah
media majalah online berbahasa inggris yang menyebutkan bahwa sekarang kamu
bisa membeli pertemanan dari seorang influencer.
Menurut kalian, apa asyiknya membeli pertemanan influencer?
Contoh: Influencer A yang
memiliki sebuah restaurant, kafe gaul memberikan tarif perbulan sekian ratus
ribu dan discount sekian persen makan di restaurant atau kafe gaulnya kepada
subcriber atau pembeli pertemanannya.
Kalau dipikir, untuk apa ya? Apakah ini ada hubungannya dengan
inginnya ada pengakuan bahwa kita berteman dengan influencer terkenal?
Pertemanan yang dibisniskan. Sini, mending temenan sama aku aja,
gratis! Hahaha
Contoh kasus lain, influencer B
menawarkan tarif sekian ribu dengan service: disebut di Storynya sebagai teman
dekat dan mendapatkan panggilan Skype sebulan sekali.
Sebenarnya, yang kesepian pembelinya atau influencer-nya?
Ini memang salah satu peluang bisnis yang terbaca oleh para
influencer. Di dalam suatu hal memang selalu ada sisi baik dam buruknya. Kita
tidak bisa memberikan judgement apapun selain mempelajari perlu tidaknya kita
membeli pertemanan ini? Atau bahkan yang menjualnya?
Bukankah teman itu adalah orang yang tertawa, menangis bersama
kita? Okay, itu sahabat. Namun, bagiku sama saja. Dalam bahasa Inggris
"Friend" is "Friend" yang membedakan hanya tittle di
depannya "best", "close" ini kan yang membedakan sejauh
mana kita sharinh happiness dan sadness? Tapi, essensinya tetap sama.
Jadi, kasarnya itu begini "kalian
ingin berteman denganku tapi kalian harus membayarku hanya karena aku orang
terkenal" kedengarannya sangat arogant, ya? Tapi, jika memang ada kita
tidak bisa menghindarinya juga.
Cuma, kalau aku lebih suka pertemanan yang kubangun dengan
ketulusan. Meski awalnya hanya say Hi, saling komentar di media social namun,
aku tahu mereka adalah orang-orang yang ada dalam sebagian cerita hidupku.
Mereka memberikan pengaruh yang menentukan kelangsungan hidupku kedepannya jadi aku tidka mau mendapatkan mereka dengan membeli. Baik dan buruk Media Social ini semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.
So, menurut kalian apakah okay berbisnis pertemanan itu?

Pesan moral : Bijaklah dalam menggunakan media sosial... dan mencari teman tentunya... hehe
ReplyDeleteHahaha, bener segala sesuatu jika disikapi dengan bijak insyaallah selamat...
DeleteDan jangan memaksakan diri, jika memang disana bukan rezekinya
DeleteTapi kalau semau orang ngerti jadi damai jagat maya ini wakakkaka
DeleteYa, memang seperti itulah tingkah dan polah dibisnis dunia maya.
ReplyDeleteDuit dan duit, demi menunjukan taring kegengsiaannya.
Kadang saya juga terjebak dengan halu dan kecanduan, pusing jika followernya dikit. Pertama terjuang di medis sosial, pasti siapaun akan mengalaminya.
Tapi dengan seiring waktu, akan bisa mengabaikannya.
Dah sini, berteman dengan saya saja, gratis kok.
tapi jika mau bayar, ya saya terima :)
Hahahaha
DeleteYa siapa juga yang nolak dikasih duit yaaa...
ogah banget..punya teman semu apa enaknya?
ReplyDelete