Seberapa
Jauh Kamu Ikuti ke"haluan"mu? Iya, seberapa jauh? Jangan jauh-jauh
nanti kita bisa lupa dengan kenyataan siapa kita. Jangan hidup dalam "dunia fiksi" yang kita
karang sendiri.
Seberapa
jauh kita boleh berjalan dengan ke"haluan"?
Sejauh "cerita fiksi" yang
jangan pernah kita claimed sebagai kehidupan nyata kita.
Bagaimana kita bisa membedakan, antara cerita khayalan atau
fiksi belaka dan hidup dalam khayalan? Saat seseorang sudah gelisah dan
berusaha membangun image-nya layaknya cerita khayalan yang dia impikan,
waspadahlah kita mulai terlena dan menikmati hidup dalam ke"haluan"
apalagi sampai boost cerita yang ga pernah ada apalagi terjadi demi menaikkan
prestige.
Kebutuhan Diakui
Yes,
setiap manusia memiliki kebutuhan akan "pengakuan" ga terkecuali.
Entah hanya diakui oleh orang-orang terdekatnya saja, seperti pasangan, anak,
orang tua atau lingkup lebih besar yaitu sebuah komunitas.
Jika
kita jumpai si A bercerita tentang suaminya yang bla bla bla, itu secara ga
langsung dia juga ingin diakui bahwa dia sangat beruntung mendapatkan pasangan
yang bla bla bla.
Atau
si B yang kerap memposting kata-kata bijak, disamping ingin berbagi inspirasi
dia ingin orang tahu kalau dia sedang (belajar) bijaksana atau bahkan orang
yang bijaksana. Its not so obvious tapi selalu ada maksud yang tersirat jauh di
dalam lubuk hatinya.
What
else? Aku pun yang hobby sharing tips
sales and marketing selain ingin sharing ilmu pasti tersirat ingin orang
tahu kalau aku ini punya ilmu sales and marketing dan aku ini seorang praktisi.
So what? Ini satu kebutuhan yang wajar.
Kebutuhan
ini menjadi tidak wajar jika sudah mulai berlebihan dengan cara mulai berbohong
agar orang mau mengakui kehebatan, keberuntungan dan kebaikan kita.
Kebutuhan Akan Kemenangan
Benar
adanya, selain kebutuhan ingin diakui kadang ke"haluan" terjadi
karena ga ingin kalah. Ingin merasa lebih dibanding yang lain. Apakah salah?
Tidak. Tidak ada yang salah, setiap diri manusia memiliki sifat kompetitif.
Menjadi salah saat kita mulai ingin menang terus menerus.
Oleh
karenanya, dalam kehidupan kita sesekali harus merasakan kalah agar kita tidak
sombong dan memiliki empati.
Lalu,
apa kabar yang kalah terus ya? Akhirnya mereka jadi rendah diri atau yang
terburuk berpikir untuk mengelabui semua orang supaya terlihat hebat.
Bagaimana Biar Tidak Terjebak
Dalam ke"Haluan"?
- Bersyukur dan lebih mencintai siapa kita dan apa yang kita miliki saat ini
- Akui kehebatan orang lain.
- Belajar lebih banyak mendengar
- Mengetahui bahwa tidak bisa hebat atau beruntung di bidang A bisa dibidang lain.
- Mengetahui bahwa tidak semua orang bisa melihat kelebihan kita
- Terus berusaha menjadi yang terbaik pada bidang yang kita kerjakan saat ini. Serta lakukan sesuatu yang bermanfaat atau memberikan manfaat bagi orang lain, lingkungan atau komunitas kita
- Empati dan hormati semua perbedaan yang ada karena hidup itu saling membutuhkan dan melengkapi
- Tekun dan terus menerus berlatih sampai kita mastering sesuatu yang mungkin berbeda dari yang lain.
- Rajin beribadah dan lebih dekatkan diri dengan Tuhan
Hidup
itu lebih tenang dengan apa adanya dan siapa adanya diri kita. Tidak perlu
menipu diri sendiri, orang lain demi mendapatkan pengakuan. Kita ga harus pamer
tabungan banyak, property kita di mana-mana untuk dibilang kaya tapi bisa
dilakukan dengan banyak berdermah dan sedekah secara ihklas. Pun untuk dibilang
cantik ga perlu pamer habis perawatan di sana, di sini, beli skin care harga
segini dan lain sebagainya, cukup sajikan tubuh yang bersih, wangi dan miliki
pribadi yang menarik.
1001 cara menjadi inspirasi,
memberi aspirasi dan memberikan positive vibe untuk lingkaran kita.
Have
some fun, life is beautiful

No comments:
Post a Comment
Hai Sahabat,
Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.
Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!
XoXo