Tiba-tiba saja aku ingin menulis
tentang KARMA. Tidak ingin menyebutkan Karma baik atau buuruk, karena sebagian
besar orang mengkoneksikan Karma dengan kejadian buruk. Sebagai contoh : Saat
kita dijahati orang ada yang berpikir “itu
karmamu karena dulu jahatin aku!” Toeng!
Tapi, sebaliknya ini saat kita
mendapatkan kebaikan dari orang lain yang terlontar dari bibir kita adalah “Sungguh Tuhan Maha Baik”. Alhamdulillah…artinya
kita mahluk beriman.
Padahal ini ya, baik dan buruk
itu sudah menjadi ketentuan TUHAN dan baik dan buruk hanyalah bersifat
sementara. Sementara saat emosi tidak stabil hal buruk yang menimpah menjadi
musibah akan tetapi saat emosi stabil and we already back to our true sense
kita sadar bahwasannya kita mendapatkan hikmah yang membawah perubahan luar
biasa di dalam hidup kita. Begitu pula sebaliknya, hal baik saat direnungkan
juga mengandung pelajaran kalau kita terlena maka akan menjadi buruk. Apa yang
kekal di dunia ini selain TUHAN itu sendiri?
Istilah Karma menurut Hindu adalah hal-hal yang dialami manusia yang merupakan
hasil dari tindakannya di masa lalu dan sekarang. Dan istilah Karma ini
sangat baik hadir menjadi sebuah reminder agar kita sebagai manusia melakukan
intropeksi diri. Intropeksi yang harus dilakukan secara berkelanjutan agar kita
menjadi manusia dan pribadi yang lebih baik.
Terlepas apakah Karma itu ada
atau tidak, karena di agama Islam sendiri kami tidak diajarkan tentang Karma
melainkan hukum tabur tuai, apa yang kita tabur(tanam) itu yang nanti akan kita
tuai. Jadi istilah karma bagi khalayak umum adalah hukuman setimpal terhadap
apa yang sudah kita perbuat. Memahami hal ini membuat kita lebih berhati-hati
dalam berbuat dan juga selalu intropeksi diri, berbuat sesuatu tidak semata
untuk kepentingan sendiri, melakukan apapun tidak selalu memikirkan diri
sendiri. Ada orang lain yang akan menerima akibatnya, ada kita sendiri yang
akan merasakan baik dan buruknya.
Aku sendiri, menuliskan hal ini
bukan karena sudah sangat baik menjadi manusia. Akan tetapi, kadang aku sadar kalau
aku hidup di dalam karmaku. Well, baik dan buruknya. Jadi, memahami hal ini aku
menjadi lebih menerima keadaanku saat ini dan tidak cuma menerima akan tetapi
berusaha lebih baik lagi. Dan melakukannya secara mindfulness. Ingin kualitas
hidup lebih baik, ya secara spiritual kita harus memperbaiki diri apapun agama
kita.

No comments:
Post a Comment
Hai Sahabat,
Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.
Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!
XoXo